Senin, 28 Januari 2013

,,seperti mencari Taksi

"Sepatuku"
Model: My Shoes
Taken by Me, using Canon EOS 60D


Hidup kadang mirip dengan ketika kita sebenarnya mencari kantong plastik
berukuran kecil di tempat penyimpanan, tapi yang ditemukan justru kantong plastik berukuran ukuran besar.
Di lain hari sebaliknya, ketika membutuhkan kantong plastik ukuran besar, di tempat penyimpanan yang ditemukan justru kantong berukuran kecil, dan sangat banyak jumlahnya. 

Atau mirip dengan ketika kita akan bepergian membawa kendaraan sendiri, begitu keluar gerbang rumah, beberapa taksi kosong melintas.
Di lain hari, ketika kita mencari taksi untuk bepergian, begitu lamanya, taksi kosong tidak juga melintas, namun ketika setelah lama menunggu akhirnya mendapatkan satu taksi yang dapat dinaiki, pada saat yang bersamaan beberapa taksi kosong, juga berkali-kali turut melintas. 
Tak apa, santai saja, selalu akan ada hal terindah yang tak kamu duga-dugakan,
yang sangat mungkin akan kamu capai.
#contemplating.



Tidak selamanya menjadi anak-anak. (Contemplating the Opportunity)

"Two part of Slightly"
Model: MSG
Taken by Me, using Canon EOS 60D
"Togetherness"
Models: Me & Friends
 
Taken by Guide, using Canon EOS 60D
Manusia tidak selamanya menjadi anak-anak, dia kemudian akan tumbuh menjadi remaja, dan tidak berhenti di sana, remaja kemudian akan menjadi separuh baya, lalu tua, dan dgn melalui itu semua, atau bisa saja tidak, yang pasti adalah, manusia kemudian akan "mati", dengan tidak lagi bisa melakukan apa-apa untuk siapa-siapa, karena tidak bisa juga memiliki siapa-siapa. Tidak bisa memiliki apa-apa, bahkan sekedar "waktu".
Katakanlah ini bukan tentang neraka atau surga. Katakanlah ini tentang "space waktu" yang disediakan dgn sebutan "Kesempatan". Apa kita akan terlalu bodoh untuk melewatkannya dengan tidak melakukan yang terbaik? Apa kita akan terlalu bodoh membuat diri kita gagal begitu saja? Apa kita begitu bodoh membiarkan diri kita tidak pernah memiliki pencapaian apapun? Apa kita akan terlalu bodoh membiarkan kesedihan, kekecewaan, terlebih penyesalan, atas diri kita sendiri, atas orang-orang yg kita hargai, yang kita sayangi? Apakah kita terlalu bodoh melewatkan "waktu" dgn percuma dimana kita tidak akan pernah tahu sampai kapan kita masih bisa memiliki apa yang kita sebut dengan, "Kesempatan"? Hingga kemudian pada akhirnya mati, dengan segala "kemanusiaan" yang nyatanya hilang, dan berakhir.

#merenungkan.

Tentang beberapa pertanyaan sederhana untuk pacar sang mantan.

Apa yg kamu rasakan setelah dipihaki oleh waktu untuk bersamanya? 
untuk melukiskan senyumannya, 
mengabadikan keindahannya jauh di ruas-ruas hatimu,
Setelah tiap bagian bibir indahnya menyentuhi tiap sudut bibirmu,
setelah manjanya memenuhi tiap kebersamaan yg lebih dr sekedar nyata.
Setiap dia memintamu dgn sangat dalam untuk jangan pergi, sekalipun hanya hitungan menit kehadiranmu digantikan jarak darinya?
Setiap merasakan kecemburuannya yang sekalipun tidak pernah diakui?
Apa yang kamu rasakan sekarang?
Setiap dia memangilmu, "sayang",
setiap dia melayangkan betapa dia ingin bersamamu sesaat itu juga, saat sejengkal saja mencoba membentangimu darinya?
Apa yang kamu rasakan?
Ketika dia menjadi sistem fikir yang sama dengan sistem fikirmu,
ketika dia membanggakanmu di belakang yang kamu tau,
ketika dia menyukai apa yang juga kamu sukakan,
ketika dia menyukai tempat di manapun kamu dan dia bertemu, 

bersama,
berjibaku dengan sgala cerita-cerita yang akan abadi oleh kenangan?
Ketika dia menceritakan apa yang terjadi hari ini dengan bahasa tubuh yang membuatmu begitu sadar bahwa dia begitu indah?
Apa yang kamu rasakan?
Ketika dia menangis di hadapanmu, menyanyikan kesedihan akan ketakutan yg mgkin dihadirkan oleh daya sekejam perpisahan?
ketika dia merebahkan kesunyian di pundakmu, di pelukanmu?
Apa yg km rasakan?
Ketika dia mencumbuimu?
Ketika dia dengan malu sekaligus begitu berani dan begitu indah menghadirkan sensasi yg tidak mungkin ingin kamu gadaikan dengan apapun?
Apa yang kamu rasakan ketika takdir memihakmu untuk memilikinya?
,,dirinya, geraknya, langkah kakinya, mata indahnya, sedihnya, bahagianya, air matanya, cara fikirnya, cerita hari-harinya, segalanya?
Apa yang kamu rasakan?

Aku,  merasa sangat sempurna ketika dipihaki waktu yang memihakimu sekarang.
Hingga keberpihakan waktu kadang, membawa dia mengetuki pintu-pintu yang telah harus terkunci,
sebegitu saja tersenyum di hadapan hariku untuk menghadirkan kembali langkah-langkah kecil,
untuk memiliki sedikit keberpihakan waktu dan merasai kembali apa yg sekarang mungkin sepenuhnya telah kamu miliki,
yang kemudian dibuyarkan nyata,
kemudian setelahnya kembali disatukan mimpi,
lalu dihentikan sesekejap pejam yg mengingatkan kami ttg kenyataan,
disatukan,
dihentikan,
yang entah apakah akan benar-berakhir,
atau telah dituliskan agar tetap menjadi rahasia yang selalu mencoba kembali hadir.




Ini tentang kamu

 "Everlasting Love" 
Models: Bapak & Ibu
Taken by Me, using Canon EOS 60D

Beberapa hari terakhir tempat-tempat yang pernah kita datangi membisikiku namamu. 
Memaksa, 
,,memintaku menyadari bahwa langitnya sedang menggambarkan kebenaran atas kekecewaan.
Dan malam ini bulan meredup,
,,senada ingatanku pada tangis,
tangis yang pernah ku ciptakan di sudut mata yang selalu kubiarkan berkaca-kaca. 

Yang belum begitu lama baru aku mengerti, 
bahwa keindahanmu mematikan rasaku pada keindahan yang mencoba datang, 
,,setelah kamu.



Jump to the Sky

"Jump"Models: Me & Friends
Taken by Guide, using Canon EOS 60D

Foto adalah sebuah moment. Foto X bercerita tentang ini, foto Y menggambarkan tentang itu, banyak hal, dan ketika kita memutuskan untuk "mengabadikan" sebuah "masa" dengan kamera, maka selanjutnya foto itu akan menjadi sebuah "moment" di masa mendatang. Karena lebih dari sekedar mengambil "gambar pada masa itu", adalah kita yang "menciptakan" moment, dengan semua "cerita di dalamnya". Foto dapat bercerita banyak, namun tidak jarang juga, foto tidak ingin menceritakan "yang benar-benar sebenarnya". Atau terkadang, dapat disalahartikan orang yang melihatnya. Karna foto bersifat "discontinue" pada "frame" tertentu, dimana hanya "sebagian" moment yang terlihat, tanpa dapat diangankan, "awal, atau akhir" dari kejadian yang diabadikan. "Abadi", dalam frame, abadi, dalam "arti". :)
Mari melangkah bersama, menghentikan masa dalam estetika, mengukir keabadian. Biarkan apa yang kamu tangkap yang menceritakan, juga membohongi segalanya,, atau perasaan? ..








It's just about me, blue, and green.

"Me, Blue, and Green"
 Model: Me
Taken by MUM, using Canon EOS 60D
,,dan tidak satu pun saya sesali tiap-tiap pertemuannya, kebersamaannya, bahkan hingga perpisahannya. Tiap-tiap kisah baik buruknya, bahagianya, pun juga pedihnya. Saya nikmati semua itu sebagai "proses". Karena jelas saya tidak akan menjadi saya yang sekarang, pun kamu tidak akan menjadi kamu yang sekarang, tanpa apa yang bisa kita hargai sebagai "proses" tadi. 
Tanpa pernah bersama A, saya tidak pernah menjadi pribadi dengan karakter Z, tanpa B, saya tidak memiliki karakter Y, tanpa C, saya tidak memiliki sifat X, dan tanpa D saya tidak mungkin menjadi pribadi W. Dan bagi saya kesemuanya memperkaya khasanah pribadi secara positif. Untuk itu, saya tidak menyesali apapun. Dan untuk sebuah opportunity, dari semua masa yang sudah dilewati, sampai detik ini, masa yang terbaik adalah detik ini. Sekalipun terbaik tidak selalu terindah, maupun sebaliknya, yang terindah tidak selalu yang terbaik. Walau, ya, ada titik kesempurnaan dimana kita bisa mencapai apa yang "terbaik dimana sekaligus juga dirasai sebagai apa yang terindah", (kesempurnaan yang belum saya dapatkan saat ini. :). Namun detik ini tetaplah yang terbaik. Karena apa? Karena pada detik ini, keputusan atas sebuah sikap pada detik itulah yang menentukan detik-detik selanjutnya untuk menjadi detik yang kita tidak pernah tahu kebahagiaan tidak terbatas apa yang masih dapat kita capai.
Terimakasih, kepada pribadi-pribadi terindah dan terbaik yang pernah saya miliki dengan sepenuh hati. Saat ini, secara tiba-tiba saya mengenang dengan tersenyum tanpa sesal untuk apa-apa yang pernah terjadi, dan kita semua lalui. :)




--at Virgin Beach, Pari Island.